Efek Domino Harga Plastik: Dari Gangguan Distribusi Hingga Ancaman Kenaikan Harga Pokok

/Dok. Finnews

FAKTASERANG.ID – Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir telah memberikan tekanan besar pada rantai pasok bahan baku global.

Fenomena ini tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah bertransformasi menjadi persoalan ekonomi serius yang mengancam stabilitas operasional di berbagai sektor industri.

Gangguan Pasokan dan Dampak Konsumen

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengonfirmasi bahwa lonjakan harga ini berakar pada masalah ketersediaan di tingkat hulu.

Ia menyebutkan bahwa gangguan pada pasokan bahan baku berdampak langsung pada distribusi di pasar domestik.

Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu efek domino pada harga kebutuhan pokok masyarakat, mengingat ketergantungan yang tinggi terhadap kemasan plastik.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperingatkan adanya risiko inflasi akibat tekanan ini.

“Ketika pasokannya terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat produsen, tetapi juga berpotensi menjalar hingga ke konsumen melalui kenaikan harga produk dan tekanan terhadap daya beli,” ungkap Yusuf dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (13/4).

Tekanan pada Pelaku Usaha Mikro

Sektor usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi pihak yang paling rentan. Jika produsen tidak menaikkan harga jual, maka margin keuntungan akan tergerus.

Namun, menaikkan harga juga berisiko membuat konsumen berpaling karena daya beli yang terbatas.

Isi Ulang Sebagai Solusi Jangka Panjang

Di tengah ketidakpastian harga bahan baku, model bisnis yang lebih efisien mulai dilirik sebagai strategi bertahan hidup.

Direktur PT Biru Semesta Abadi (Air Minum Biru), Yantje Wongso, menilai bahwa pendekatan berbasis penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill) kini menjadi langkah adaptif yang krusial.

Sebagai penyedia layanan air minum isi ulang yang menggunakan galon milik pelanggan, Air Minum Biru merasa lebih terlindungi dari fluktuasi harga plastik baru.

“Ketika pasokan dan harga menjadi tidak pasti, sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya akan menjadi keunggulan. Reuse dan refill bukan hanya alternatif, tapi bagian dari solusi jangka panjang,” kata Yantje.

Ia menambahkan bahwa ketahanan sistem menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis rantai pasok global.

“Kami sejak awal membangun model bisnis yang meminimalkan ketergantungan pada plastik baru, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *