FAKTASERANG.ID — Anggota DPRD Kabupaten Pandeglang dari Fraksi Golkar, Miftahul Farid Sukur, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dalam memproyeksikan revitalisasi kawasan wisata Situ Cikedal di Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang.
Proyek penataan dan pengerukan danau alami yang membentang di Desa Dahu dan Desa Babakan Lor ini menyerap anggaran sekitar Rp9,4 miliar melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten.
Anggaran tersebut bersumber dari pagu awal APBD Banten TA 2026 sebesar Rp9,7 miliar yang terkoreksi menjadi Rp9,4 miliar usai proses lelang dan kontrak kerja.
Langkah pembenahan ini diambil merespons kondisi Situ Cikedal yang sebelumnya dikeluhkan warga karena kurang terawat, ketersediaan fasilitas yang minim, serta masalah pendangkalan air yang kerap mengganggu pasokan warga saat musim kemarau.
Belajar dari Keberhasilan Parepare: Pembangunan Berorientasi Investasi
Baca Juga: Jaga Sejumlah Titik Rawan dari Potensi Kebakara, Polda dan Pemprov Banten Bentuk Satgas Terpadu
Miftahul Farid Sukur menilai, revitalisasi wisata air ini merupakan investasi jangka panjang yang berorientasi pada penguatan perekonomian daerah, bukan sekadar pemborosan anggaran.
“Satu tahun yang lalu saya pernah berdiskusi dengan mantan Wali Kota Parepare yang sekarang menjadi Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Bapak Dr Taufan Fawe. Di masa pemerintahannya beliau pernah menggelontorkan dana begitu besar hanya untuk membangun ‘Monumen Cinta’, yaitu patung Presiden ke-3 BJ Habibie dan istrinya,” kata Farid, Jumat (14/8/2026).
Farid menuturkan bahwa proyek di Parepare tersebut dulunya sempat memicu kritik tajam karena dibangun di tengah keterbatasan anggaran infrastruktur dasar daerah. Kendati demikian, fasilitas tersebut justru berubah menjadi ikon pariwisata yang mendatangkan keuntungan finansial berkelanjutan bagi daerah.
“Yang menakjubkan adalah monumen itu kini mendongkrak PAD kota. Salah satunya adalah meningkatkan jumlah wisatawan yang berlibur, mendongkrak pendapatan sektor perhotelan, kuliner, hiburan,” katanya.
Mengacu pada kesuksesan tersebut, Farid memandang strategi Pemprov Banten di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Andra-Dimyati sebagai langkah progresif untuk memantik pusat pertumbuhan ekonomi baru di Pandeglang.
“Oleh sebab itu, saya beranggapan bahwa mungkin Pemerintahan Provinsi Banten di bawah kepemimpinan Andra-Dimyati berpikiran sama bahwa walaupun infrastruktur Pandeglang masih tergolong rusak, tetapi mereka berpikir out of the box, bahwa Situ Cikedal perlu direvitalisasi agar menjadi salah satu magnet ekonomi Pandeglang,” ujarnya.
Mendorong Sikap Objektif demi Kesejahteraan Rakyat
Menanggapi rumor dan dinamika politik lokal terkait dugaan kepemilikan lahan di sekeliling Situ Cikedal oleh figur pejabat tertentu, Farid menegaskan pentingnya bersikap rasional dan mengutamakan kepentingan publik di atas polarisasi politik.
“Walaupun faktanya banyak yang kontra karena diduga tanah sekitar Situ Cikedal yang punya adalah seorang pejabat. Tapi, siapapun pemilik lahannya jika memang tujuannya adalah untuk rakyat, maka sebagai warga dan sebagai anggota DPRD saya mendukung hal tersebut. Walaupun di Pilgub kami kalah, tapi saya harus objektif,” katanya.
Melalui pembenahan menyeluruh ini, Situ Cikedal diharapkan mampu bertransformasi menjadi objek wisata unggulan yang tidak hanya mengairi lahan pertanian masyarakat, tetapi juga menggerakkan sektor UMKM, menyerap tenaga kerja lokal, serta meningkatkan pendapatan daerah melalui retribusi dan pajak pariwisata.













