FAKTASERANG.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang menegaskan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang saat ini berada pada Status Level III (Siaga) tidak memiliki potensi memicu gelombang tsunami.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala BPBD Kabupaten Serang, Ajat Sudrajat, guna meredam kekhawatiran masyarakat serta meluruskan informasi simpang siur yang beredar di publik.
Meskipun dalam kondisi siaga, masyarakat, nelayan, maupun wisatawan diwajibkan untuk mematuhi rekomendasi jarak aman, yaitu tidak mendekati area kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
“Jarak tempat wisata, hotel, dan permukiman warga kan cukup jauh, yaitu 42 kilometer, itu masih relatif sangat aman untuk saat ini. Kalaupun ada informasi yang meresahkan, kami minta untuk selalu mengecek ulang dan pastikan untuk mengakses informasi dari kanal-kanal resmi,” kata Ajat di depan gedung Setda Pemkab Serang, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: BPBD Sanggau Temukan 126 Sebaran Titik Hotspot dengan Kategori Tinggi
Anyer dan Cinangka Masih Relatif Aman
Ajat memaparkan, andaikata di masa depan status Gunung Anak Krakatau kembali naik ke Level IV (Awas), daratan Kabupaten Serang—khususnya kawasan wisata Anyer dan Cinangka—diprediksi masih relatif aman dari dampak langsung material vulkanik.
Hal ini didasarkan pada perhitungan jangkauan wilayah jika terjadi erupsi besar:
Radius Lontaran Erupsi Maksimal: Diperkirakan hanya mencapai 8 kilometer dari pusat kawah.
Jarak ke Permukiman/Kawasan Wisata: Mencapai 42 kilometer, sehingga material letusan tidak akan sampai ke daratan Anyer-Cinangka.
Belajar dari Kasus 2018: Bagaimana Potensi Tsunami?
Saat disinggung mengenai trauma bencana tsunami akibat longsoran Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018 silam, Ajat kembali menegaskan bahwa kondisi visual dan seismik saat ini sangat berbeda.
“Memang masih terjadi gempa tremor, namun masih dalam batas normal. Kita berharap dan berdoa agar tidak terjadi peningkatan status,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan mekanisme teknis yang bisa memicu tsunami dari aktivitas gunung api di tengah Selat Sunda tersebut.
“Kemungkinan tsunami itu bisa terjadi ketika ada kenaikan level IV dan terjadi longsoran yang cukup besar dan jatuh ke laut. Jadi ketika ada kenaikan ke level IV pun belum tentu akan terjadi tsunami,” pungkas Ajat.
Saat ini, Pemkab Serang bersama petugas di Pos Pantau Gunung Anak Krakatau terus bersinergi melakukan monitoring ketat selama 24 jam.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, beraktivitas normal, dan tidak mudah memercayai kabar hoaks yang sengaja disebarkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Baca Juga: Sinergi TNI dan Industri, TMMD Kodim 0623/Cilegon Bedah Rumah Warga di Citangkil













