Indonesia Resmi Terapkan Hidrogen: Luncurkan Bus H2 DDF dan Koridor Hijau Jakarta–Patimban

Penggunaan teknologi retrofitting ini mampu menekan emisi opasitas bus hingga 57,66 persen./Dok. Kementerian ESDM

FAKTASERANG.ID — Indonesia resmi menggeser peta jalan pengembangan energi hidrogen dari tahap perencanaan menuju implementasi konkret di lapangan.

Langkah strategis ini ditandai dengan peluncuran Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (Bus H2 DDF) serta pengembangan Green Hydrogen Corridor sepanjang 194 kilometer yang menghubungkan Jakarta, Karawang, dan Patimban.

Kedua inisiatif tersebut diperkenalkan dalam pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/7/2026).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pengembangan hidrogen bukan sekadar transisi energi ramah lingkungan, melainkan instrumen krusial dalam memperkuat kemandirian energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu.

Baca Juga: Rugi Rp5 Triliun akibat Blackout, Polri Periksa Pihak ESDM Terkait Korupsi Batu Bara

“Pengembangan hidrogen selaras dengan arahan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, seperti konflik di Timur Tengah yang melahirkan ketidakpastian. Kondisi ini memaksa setiap negara untuk memproteksi kebutuhan energi nasionalnya dengan memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing,” ujar Bahlil.

Meski mengakui biaya produksi hidrogen saat ini masih terbilang tinggi jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil maupun B50, Bahlil optimistis efisiensi teknologi dan kelangkaan minyak mentah dunia akan membuat harga hidrogen jauh lebih kompetitif dalam waktu dekat.

“Masih mahalnya energi berbasis hidrogen menjadi tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar lebih kompetitif. Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi, dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya,” jelas Bahlil.

Investasi Rp32 Triliun dan Dedieselisasi Pembangkit

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi membeberkan bahwa saat ini pemerintah memetakan 93 inisiatif proyek ekosistem hidrogen di seluruh Indonesia yang berpotensi menarik investasi hingga Rp32 triliun.

Selain sektor transportasi, teknologi hidrogen disiapkannya untuk mendukung program dedieselisasi di daerah terdepan.

Proyek percontohan di Sumba ditargetkan beroperasi komersial (commercial operation date/COD) pada 2028, disusul kolaborasi bersama PLN di Pulau Rote yang diproyeksikan memangkas biaya produksi listrik dari 1 dolar AS menjadi 25 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).

Modifikasi Bus DAMRI Pangkas Emisi Gas Buang

Langkah awal komersialisasi hidrogen di sektor transportasi diwujudkan melalui modifikasi armada bus diesel milik Perum DAMRI menggunakan teknologi Dual Fuel (H2 DDF).

Proyek kolaborasi antara Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, PT Tritunggal Prakarsa Global, dan PT SUCOFINDO (Persero) ini mengintegrasikan 16 tabung hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter pada armada bus Hino bermesin 7.684 cc.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero) Sandry Pasambuna menyampaikan bahwa pengujian independen dilakukan untuk memastikan aspek keselamatan dan kesesuaian standar teknis.

“Sebagai perusahaan Testing, Inspection, Certification and Consultation (TICC), SUCOFINDO berperan sebagai pihak independen yang memastikan implementasi teknologi H2 DDF pada Bus DAMRI memenuhi aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis,” ujar Sandry.

Hasil pengujian laboratorium SUCOFINDO mencatat penurunan emisi yang signifikan pada bus H2 DDF, yakni menekan emisi opasitas hingga 57,66 persen, karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, serta nitrogen oksida sebesar 21,16 persen.

Solusi retrofitting ini dinilai menjadi alternatif efisien untuk menekan konsumsi solar tanpa harus mengganti keseluruhan armada bus yang ada.

Baca Juga: Masalah Pasokan Batu Bara Untuk PLTU Selesai, Kementerian ESDM: Tim Khusus Sudah Dibentuk Untuk Pengawasan Pengadaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *