FAKTASERANG.ID – Perusahaan kecantikan terkemuka Asia Tenggara sekaligus pionir halal beauty asal Indonesia, ParagonCorp melalui brand Wardah, memperluas kiprahnya di panggung global dengan berpartisipasi dalam forum perempuan Muslim dunia Jadal Women’s Research Dialogue yang diselenggarakan oleh Al Mujadilah Center and Mosque for Women di Doha, Qatar, awal 2026.
Kehadiran Wardah dalam forum internasional ini menjadi penegasan komitmen perusahaan dalam memperkuat kepemimpinan perempuan dan mendorong praktik ethical business di tingkat global. Partisipasi tersebut juga merefleksikan semangat “Wardah Beauty Moves You” yang menempatkan kecantikan sebagai kekuatan untuk menggerakkan perempuan bertumbuh, memberi dampak, dan berkontribusi secara bermakna.
Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, serta praktisi Muslim lintas negara untuk membahas isu-isu kontemporer perempuan Muslim. Dialog yang terbangun tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga membumi pada praktik dan tantangan nyata yang dihadapi perempuan di berbagai belahan dunia.
Dalam sesi diskusi panel, Wardah menghadirkan dua tokoh penting, yakni Menteri Luar Negeri Republik Indonesia periode 2014–2024, Retno Marsudi, serta Deputy CEO dan Chief R&D Officer ParagonCorp, Sari Chairunnisa. Turut hadir pula Founder Oola Qatar Haya Al Ghanim, CEO Yayasan MySDGs Malaysia Anita Ahmed, dan CEO Yayasan PETRONAS Malaysia Shariah Nelly Francis.
Executive Director Al Mujadilah, Dr. Sohaira Siddiqui, menekankan pentingnya menjembatani kesenjangan antara ruang akademik dan ruang komunitas. Menurutnya, riset dan praktik tidak bisa lagi berjalan terpisah. Keduanya perlu dilebur agar perspektif yang dihasilkan lebih komprehensif dan aplikatif bagi perempuan Muslim di seluruh dunia.
Melalui partisipasi ini, Wardah mengangkat tema faith, values, dan women stewardship sebagai fondasi dalam membangun ethical business dan komunitas berkelanjutan. Dalam industri kecantikan, prinsip ethical business tidak dapat dipisahkan dari konsep halal sebagai ethical framework yang mengatur seluruh proses bisnis, mulai dari sourcing bahan baku, formulasi produk, hingga klaim dan rantai nilai.
Kini, halal tidak lagi dipahami semata sebagai label keagamaan, melainkan berkembang menjadi standar global yang merepresentasikan kualitas, keamanan, transparansi, serta tanggung jawab sosial. Sebagai pionir halal beauty, Wardah menegaskan komitmennya melalui konsep Ethical Business Ecosystem as a Living Value.
Bagi perusahaan, halal adalah living value yang diterapkan secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Mulai dari pemilihan bahan berkualitas tinggi, supply chain yang cruelty-free, pemanfaatan teknologi canggih untuk menjamin mutu, hingga praktik bisnis yang transparan serta komitmen terhadap circular economy dan pemberdayaan komunitas.
Menurut dr. Sari Chairunnisa, halal adalah prinsip etika yang membentuk cara perusahaan bekerja. Lebih dari sekadar strategi bisnis, hal tersebut merupakan bentuk stewardship dan tanggung jawab sebagai manusia untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Dalam konteks kepemimpinan, Retno Marsudi menegaskan bahwa purpose harus menjadi fondasi utama seorang pemimpin perempuan. Moral compass, integritas, serta nilai menjadi panduan penting dalam mengambil keputusan, terutama di tengah dinamika dan ketidakpastian global. Kepemimpinan yang berlandaskan nilai diyakini mampu tetap berpihak pada kepentingan publik, termasuk kelompok rentan.
Selain berbagi perspektif kepemimpinan dan bisnis etis, Wardah juga memaparkan hasil riset kualitatif terhadap perempuan Muslim Indonesia mengenai aspirasi kecantikan, modernitas, dan gaya hidup yang selaras dengan nilai syariat.
Hasil riset menunjukkan bahwa perempuan Muslim Indonesia memaknai kecantikan sebagai proses menjadi versi terbaik diri. Kecantikan tidak hanya tentang penampilan fisik, tetapi tentang passion, kemandirian, produktivitas, keanggunan, keberanian, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Generasi perempuan Muslim muda pun semakin melihat kecantikan dan kepemimpinan melalui lensa purpose. Keberanian untuk bersuara dan menciptakan dampak sosial menjadi bagian dari ekspresi diri. Dalam konteks ini, kecantikan mencerminkan integritas dan keselarasan antara aspek fisik, spiritual, serta tanggung jawab moral.
Riset tersebut menegaskan bahwa perempuan Muslim mampu menavigasi modernitas tanpa meninggalkan nilai dan iman. Prinsip etika dan kepedulian sosial menjadi kompas dalam pertumbuhan diri sekaligus kontribusi terhadap sesama.
Melalui keterlibatan di Jadal Women’s Research Dialogue, Wardah ingin menyuarakan peran perempuan Muslim sebagai agen perubahan global. Kecantikan, dalam perspektif perusahaan, bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk dijalani melalui tujuan, tanggung jawab, dan kontribusi bermakna.
Langkah ini sekaligus memperkuat visi ParagonCorp sebagai Purposeful Beauty Tech Company yang membawa nilai, etika, dan tanggung jawab sosial ke dalam percakapan global. Dari Indonesia ke Doha, Wardah menunjukkan bahwa halal beauty dapat menjadi kekuatan transformasi yang berdampak luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di tingkat internasional.[mut]













