Pasokan Avtur Global Terancam, Jalur Distribusi di Selat Hormuz Berada dalam Bahaya

(Dok. Ist)

FAKTASERANG.ID  – Industri penerbangan dunia kini berada dalam bayang-bayang kelangkaan bahan bakar pesawat (avtur) yang serius.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah mengganggu jalur distribusi minyak dunia, memicu kekhawatiran akan terjadinya pembatalan penerbangan massal dan lonjakan tarif tiket dalam waktu dekat.

Maskapai di Eropa dan Asia menjadi yang paling rentan karena ketergantungan yang tinggi pada impor.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), lebih dari 20 persen pasokan avtur global diangkut melalui Selat Hormuz, dengan dua pertiganya ditujukan untuk pasar Eropa.

Pemulihan Pasokan Diprediksi Lambat

Analis energi dari Kpler, Matt Smith, memberikan peringatan bahwa gangguan ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.

Tantangan logistik akibat blokade dan ketegangan militer membuat proses normalisasi pasokan menjadi sangat sulit.

“Ini akan memakan waktu setidaknya hingga Juli, dan itu pun mungkin terlalu optimistis,” ujar Matt Smith, dikutip dari CNN Business, Selasa (21/4/2026).

Maskapai AS Mulai Pangkas Rute

Meski Amerika Serikat merupakan produsen utama minyak, harga avtur di dalam negeri tetap terkerek naik mengikuti pasar global.

Empat maskapai raksasa—United, American, Delta, dan Southwest—yang tahun lalu menghabiskan gabungan US$100 juta per hari untuk bahan bakar, kini harus bersiap menghadapi pembengkakan biaya.

CEO United Airlines, Scott Kirby, menyatakan perusahaannya berpotensi menanggung tambahan beban hingga US$11 miliar. Akibatnya, strategi pemangkasan jadwal penerbangan mulai diambil demi menjaga kesehatan finansial perusahaan.

“Tidak ada gunanya menerbangkan penerbangan yang merugi dan tidak bisa menutup biaya bahan bakar,” tegas Scott Kirby.

Dampak langsung mulai dirasakan penumpang di AS. Data Deutsche Bank menunjukkan harga tiket last-minute ke destinasi populer seperti Karibia melonjak drastis hingga 74 persen, sementara rute menuju Hawaii naik 21 persen.

Tekanan pada Maskapai Berbiaya Rendah

Kenaikan harga avtur ini menjadi ancaman eksistensial bagi maskapai berbiaya rendah (low-cost carrier).

Spirit Airlines memperingatkan bahwa lonjakan biaya ini dapat menggagalkan upaya pemulihan bisnis mereka pascapandemi.

Situasi semakin rumit setelah Direktur International Air Transport Association (IATA), Willie Walsh, mengungkapkan bahwa sejumlah negara Asia mulai melakukan kebijakan proteksionisme dengan membatasi ekspor avtur guna mengamankan stok domestik mereka.

Dengan berkurangnya kapasitas kursi di pasar dan pengalihan fokus maskapai ke rute yang hanya menguntungkan secara margin, pelaku perjalanan di seluruh dunia harus bersiap menghadapi era tarif tinggi, terutama menjelang musim liburan musim panas mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *