FAKTASERANG.ID – Ketegangan militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu guncangan hebat pada pasar energi global.
Dilansir pada 10 Maret, serangan udara yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu aksi balasan berupa serangan drone dan rudal ke pangkalan militer AS di berbagai negara Asia Barat, yang berujung pada melonjaknya harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak hingga melampaui USD 100 per barel disebabkan oleh kekhawatiran keamanan di Selat Hormuz.
Jalur distribusi minyak paling krusial di dunia ini menjadi zona berbahaya bagi kapal tangker, memaksa negara-negara produsen seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab mengurangi produksi akibat penumpukan stok yang tidak bisa dikirim ke pasar internasional.
Di tengah kekacauan pasar energi, Presiden AS Donald Trump justru memberikan pernyataan yang memicu perdebatan.
Ia menganggap lonjakan harga tersebut hanyalah fenomena jangka pendek dan merupakan “harga kecil” yang harus dibayar demi kepentingan geopolitik.
Padahal, penghentian produksi di Irak dan ketidakpastian jalur laut mulai mengancam stabilitas inflasi di banyak negara importir minyak.[dit]









