FAKTASERANG.ID – Timur Barat Research Center (TBRC) merilis hasil survei terbaru mengenai satu tahun perjalanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
Survei yang dilakukan pada 11-21 Februari 2026 ini melibatkan 1.802 responden dari orang tua murid di 458 Kabupaten/Kota, yang mewakili basis data Badan Gizi Nasional sebanyak 59,86 juta penerima manfaat di awal tahun 2026.
Direktur Eksekutif TBRC, Zaenal Abidin, M.I.Kom, menyatakan bahwa tingkat kepercayaan survei ini mencapai 95 persen dengan margin of error sebesar 2,31 persen.
Hasilnya menunjukkan dukungan masif masyarakat terhadap program ini, baik dari sisi gizi maupun dampak ekonominya.
Masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap kehadiran program ini di sekolah-sekolah. Sebanyak 79,4% responden menyatakan sangat mengetahui adanya program MBG, sementara 12,2% lainnya mengaku tahu.
Dari sisi kualitas layanan, tercatat 82,2% responden menyatakan sangat puas dengan pelaksanaan program untuk anak-anak mereka, berbanding terbalik dengan 12,6% yang menyatakan tidak puas.
Namun, terdapat catatan mengenai transparansi menu di lapangan. Sebanyak 74,6% responden mengaku tidak tahu dan tidak melihat langsung jenis makanan yang diberikan, sementara hanya 16,3% yang aktif memantau menu harian anak mereka di sekolah.
Salah satu temuan paling signifikan dalam survei ini adalah korelasi antara program MBG dengan penghematan ekonomi keluarga.
Baca Juga: MBG dan Ilusi Jutaan Lapangan Kerja Baru
Program ini terbukti menjadi bantalan ekonomi yang efektif bagi masyarakat.
Penghematan Pengeluaran: Sebanyak 64,3% responden merasakan penurunan pengeluaran rumah tangga bulanan hingga 10-20%. Sementara itu, 31,4% lainnya merasakan penurunan biaya hidup di kisaran 5-10%.
Secara akumulatif, 84,3% responden sepakat bahwa MBG memberikan pengaruh positif pada ketahanan ekonomi keluarga mereka.
Peningkatan Pendapatan: Selain penghematan, 60,3% responden melaporkan bahwa pendapatan rumah tangga mereka membaik seiring berjalannya program ini. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa MBG menggerakkan roda ekonomi lokal dan meningkatkan produktivitas orang tua murid.
Terkait kualitas sajian, masyarakat memberikan masukan untuk evaluasi di masa depan.
Sebanyak 60,2% responden menilai mutu dan kualitas makanan masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan, sedangkan 30,7% menilai kualitas saat ini sudah cukup memadai bagi gizi anak.
Dukungan kuat juga mengalir pada keterlibatan TNI dan POLRI melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebanyak 88,7% responden mendukung keterlibatan kedua institusi tersebut dalam menyukseskan MBG. Bahkan, 90,1% responden menilai kualitas makanan yang dikelola melalui SPPG TNI/POLRI terkategori sangat baik.
Mengingat dampak positif yang dirasakan, masyarakat menginginkan program ini menjadi kebijakan permanen yang memiliki dasar hukum kuat.
“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program makan gratis, melainkan sebuah strategi ekonomi dan juga kebijakan pembangunan manusia. MBG menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Zaenal Abidin.
Berdasarkan data survei, 89,7% masyarakat mendukung penuh agar program ini dilanjutkan dan tidak boleh dihentikan.
Selain itu, 90,4% responden mendesak agar program MBG segera dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dan diatur secara resmi dalam Undang-Undang guna menjamin kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Baca Juga: Jika Anggaran MBG Dialihkan, Setiap Keluarga Miskin Dapat Bantuan Rp5,68 Juta Perbulan









